Serena Francis, saat dihubungi, menegaskan komitmennya untuk mendukung terwujudnya graha dengan melibatkan Pemerintah Kota Kupang dan jejaring mitranya. Graha diharapkan menjadi rumah persaudaraan bagi pekerja migran, termasuk mereka yang kembali melalui Batam dari Malaysia dan Singapura.
“Bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam, kami ingin menghadirkan tempat yang aman bagi saudara-saudara yang menghadapi kesulitan di perantauan. Melalui pendampingan dan pelatihan, kita berharap mereka dapat pulang dengan harapan serta kesiapan untuk hidup mandiri,” kata Serena.
Pelayanan graha akan bertumpu pada empat pilar, yakni rumah aman, pusat pemberdayaan, pusat pembinaan jemaat, dan pusat budaya Indonesia Timur. Pdt. Sanep berharap kebersamaan berbagai pihak dapat menopang pembangunan sekaligus keberlanjutan pelayanannya.
Gagasan pembangunan Graha GMIT Eklesia Batam turut mendapat dukungan Deputi BP Batam, Fary Francis; anggota DPR RI, Saraswati Djojohadikusumo; Pemerintah Kota Batam; serta Pengurus PGI Wilayah Kepulauan Riau.
Mereka mengajak dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya bergotong royong mendukung pembangunan serta pelayanan graha sebagai rumah pemulihan dan harapan bagi pekerja migran Indonesia.(**)













