Saat Kritik Dibalas Pelukan: Pelajaran tentang Jiwa Besar dan Pengkhianatan Kepercayaan

Sembari melepas penat, saya sempat berbincang panjang lebar mengenai dunia sinematografi dan literasi dengan Zulkifli Gani Ottoh—yang akrab disapa Zugito. Beliau menaruh minat besar pada garis hidup saya.

Bagi Zugito, kisah perjalanan seorang anak manusia yang merangkak dari kampung terpencil di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, bertarung dengan nasib yang keras, hingga akhirnya bisa memetik kejayaan di Kepulauan Riau, adalah sebuah narasi yang teramat mahal. Sebuah drama kehidupan yang sangat memikat jika didokumentasikan dalam bentuk film maupun buku biografi.

Namun, perbincangan hangat tentang buku itu justru memantik kembali sebuah luka lama yang terpendam di dasar hati. Sebuah memori pahit tentang kepercayaan yang dikhianati dan kebohongan yang dibungkus rapi oleh seorang oknum penulis yang berprofesi sebagai wartawan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OPINI: Sahabat Pena, Ketika Perangko Menjadi Jembatan Hati

Seketika, dada saya terasa sesak. Dahulu, dengan untaian kata manis dan janji-janji yang membuai, oknum penulis itu datang menawarkan diri untuk membukukan seluruh perjalanan hidup saya. Saya mempercayainya sepenuhnya. Saya serahkan mimpi-mimpi saya, bahkan biaya operasional untuk membeli laptop yang ia minta telah saya tunaikan tanpa ragu.

Namun, apa balasannya? Janji itu menguap menjadi dusta. Waktu terus bergulir, hari berganti bulan, hingga kini mencatat waktu 2,4 tahun berlalu tanpa ada kepastian. Buku yang ia janjikan tak pernah mewujud. Jangankan selembar halaman, perkembangannya pun nihil.

“Tulisan dan rekam jejak yang saya kumpulkan dengan keringat selama bertahun-tahun sudah saya serahkan ke dia. Tapi sampai detik ini, tidak ada kejelasan. Pada tahun pertama, saya masih rajin mengetuk hatinya, menanyakan progresnya, tetapi pesan-pesan saya hanya dibalas dengan keheningan dan pengabaian. Sekarang, saya memilih untuk melupakannya, mengikhlaskannya,” tutur saya kepada Zugito dengan nada getir yang tak mampu lagi saya sembunyikan.

BACA JUGA:  Target Zero Accident, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Dorong Penguatan HSSE Lewat Bulan K3 Nasional

Pedihnya, si penulis yang telah membohongi saya itu kini kerap berlaku seperti malaikat suci yang tak berdosa. Saat bertemu langsung, ia begitu sopan memperlakukan saya. Namun di belakang, ia memprovokasi wartawan lain untuk membunuh karier saya melalui berita-berita bohong.

Ada rasa perih yang mengiris kalbu ketika menyadari bahwa di dalam industri yang memuja kebenaran ini, masih ada oknum yang tega membohongi sesama demi materi dan eksistensi, membiarkan sebuah karya berharga terkubur bersama janji palsunya.

Beruntung, obrolan pagi itu segera diselimuti kembali oleh aura positif dari Zugito. Pria itu memang seorang maestro yang piawai di dunia perfilman. Di tengah kesibukannya yang menguras energi sebagai jurnalis senior di Fajar Group, ia membuktikan bahwa dedikasi tak akan pernah mengkhianati hasil. Ia tetap mampu melahirkan karya-karya film yang memukau.

BACA JUGA:  Pemerintah Bidik Internet 100 Mbps Merata, Kemkomdigi Genjot Infrastruktur Digital

Pagi itu di Bandung, di tengah hiruk-pikuk meja makan, saya pulang membawa dua pelajaran besar tentang kehidupan: tentang bagaimana kelapangan hati seorang Atal S. Depari yang mampu memaafkan tajamnya pena kritik, dan tentang bagaimana saya harus belajar melapangkan dada, mengikhlaskan sebuah pengkhianatan dari seorang penulis yang telah melukai sebuah kepercayaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *