Di tengah agenda besar pembangunan Kepulauan Riau sebagai daerah strategis yang berbatasan langsung dengan negara tetangga dan menjadi salah satu pintu perdagangan internasional Indonesia, perhatian kepada kelompok rentan tetap menjadi bagian penting dari pembangunan daerah.
Para lansia di Rumah Bahagia menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan pada akhirnya juga menyangkut kualitas kehidupan manusia.
Mereka mungkin tidak lagi berada di usia produktif. Namun, kehidupan mereka tetap memiliki nilai dan martabat yang harus dijaga.
Karena itu, pelayanan sosial tidak semestinya dipandang sebagai beban pemerintah semata. Ia merupakan bentuk kehadiran negara dalam memastikan tidak ada masyarakat yang merasa ditinggalkan ketika memasuki fase kehidupan yang paling membutuhkan perhatian.
Apresiasi yang disampaikan JAM-Intel Reda Manthovani terhadap Rumah Bahagia juga menjadi catatan bahwa model pelayanan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain.
Ketika pemerintah mampu menyediakan tempat yang layak, pendampingan, pelayanan, sekaligus perhatian, maka rumah tersebut tidak sekadar menjadi fasilitas sosial.
Ia berubah menjadi sebuah rumah yang memberikan kembali sesuatu yang mungkin telah lama hilang dari kehidupan para penghuninya: rasa diperhatikan dan tidak sendirian.











