Pengamat Soroti Risiko PLTN di Batam, Geopolitik Selat Malaka Jadi Perhatian

Ia menilai, distribusi manfaat dan risiko harus dihitung secara adil. Kepentingan investasi dan kebutuhan energi nasional tidak boleh mengabaikan dampak yang ditanggung masyarakat setempat.

Rikson menilai, pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka dasar pemilihan lokasi, hasil kajian risiko, standar keselamatan, rencana penanganan keadaan darurat, serta dampak lingkungan dan sosial apabila wacana PLTN di Batam berlanjut.

Pelibatan masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan kelompok nelayan juga perlu dilakukan sejak awal, bukan hanya setelah keputusan strategis ditetapkan.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, kesenjangan pemahaman antara pemerintah, kalangan teknokrat, dan masyarakat dapat memicu persoalan apabila tidak dijembatani melalui informasi yang transparan dan mudah dipahami.

Keterbukaan tersebut penting agar masyarakat dapat menilai manfaat dan risiko berdasarkan informasi yang memadai, sekaligus memastikan proses pengambilan keputusan tidak berjalan sepihak.

“Jika pemerintah gagal melakukan pelibatan publik secara transparan dan jujur sejak awal, proyek ini berisiko dipandang sebagai kebijakan dari atas ke bawah yang mengutamakan kepentingan industri tanpa memberikan ruang yang cukup bagi suara masyarakat,” ujarnya.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Rikson menilai kesiapan Batam menjadi lokasi pembangunan PLTN tidak bisa disimpulkan hanya dari besarnya kebutuhan energi atau peluang investasi yang ditawarkan.

Pos terkait