Pecinta Mangrove Jepang Tawarkan Silvofishery di Bintan, Konservasi dan Ekonomi Bisa Berjalan Bersama

Selain itu, mangrove juga menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat pesisir.

Untuk mendukung upaya rehabilitasi mangrove, BPDAS Kepri menyediakan bibit mangrove secara gratis bagi masyarakat dan pengelola lahan. Bibit tersebut dapat diperoleh di persemaian BPDAS yang berlokasi di Senggarang.

“Harapan kita, mangrove ini dijaga dan dirawat dengan baik. Jika fungsi ekologinya berjalan optimal, maka secara otomatis akan meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitarnya,” kata Haris.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Ratusan Warga Ikuti Donor Darah Komunitas Jurnalis Kepri di Mega Mall Batam

Kombinasi antara konsep silvofishery dan program wisata menanam mangrove membuka peluang baru bagi pengelolaan mangrove di Kepulauan Riau. Kawasan seperti Sungai Tiram berpotensi menjadi model pengelolaan ekosistem pesisir yang tidak hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.

Kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan pihak internasional seperti yang ditawarkan Naoto Akune menunjukkan bahwa masa depan mangrove tidak hanya sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai pusat ekonomi hijau yang berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang tepat, mangrove dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Kepulauan Riau.(Iman)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *