Pantun Naik Kelas, Perwara Indonesia Dorong MC Batam Hidupkan Tradisi Lisan Nusantara

IDNNEWS.CO.ID, Batam – Ruang talkshow Perwara Indonesia di Batam mendadak terasa hangat dan cair. Bukan karena perdebatan panas atau isu viral, melainkan karena empat baris puisi lama yang kembali mengambil panggung: pantun.

Melalui tema “Berpantun Saat Memandu Acara di Tanah Melayu”, para MC, guru, dan budayawan berkumpul untuk membahas satu pertanyaan penting: mengapa pantun masih harus hadir dalam setiap acara hari ini?

Pembina Perwara Indonesia, Buralimar pada Kamis (14/5/2026) menegaskan bahwa kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber lintas profesi: seniman-budayawan Bung Samson Rambah Pasir, MC kondang sekaligus guru Kasmury, serta tokoh adat dan MC Zarlis.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Pameran The 8th IMOX, Ketua DPRD Batam Tegaskan Dukungannya Terhadap Industri Maritim

Diskusi malam itu tidak berhenti pada romantisme masa lalu, melainkan mengupas sejarah, teknik, hingga masa depan pantun sebagai alat komunikasi publik.

Bung Samson membuka diskusi dengan perspektif historis. Ia menegaskan bahwa Melayu dahulu dikenal sebagai bangsa bahari yang membentang luas di Nusantara. Meski modernisasi membuat istilah Melayu menyempit secara administratif, pantun justru tetap hidup dan berkembang.

“Pantun bertahan bukan karena semua orang Melayu, tetapi karena ia telah menjadi protokol sosial,” ujarnya.

Di Batam dan Kepulauan Riau, pantun hadir dalam berbagai momen: pernikahan, tepuk tepung tawar, festival budaya, hingga pembukaan acara resmi. Bahkan, tradisi serupa ditemukan di berbagai daerah Nusantara—Minangkabau, Aceh, Betawi, Dayak, hingga Banjar—menunjukkan bahwa pantun adalah infrastruktur komunikasi lintas budaya.

BACA JUGA:  Frekuensi Transaksi QRIS di Hari Kedua BI Kepri CERNIVAL 2025 Capai 73.140

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *