Langkah ini dinilai sejalan dengan kebijakan kebudayaan nasional yang mendorong integrasi pantun dalam pembelajaran bahasa Indonesia dan seni budaya. Pantun dianggap efektif sebagai media pendidikan karakter karena sarat nilai cinta keluarga, masyarakat, dan alam.
Dengan jaringan MC, guru, dan budayawan, Perwara optimistis Batam dapat menjadi laboratorium nasional pembelajaran pantun berbasis acara.
Diskusi malam itu menyimpulkan satu hal: pantun bukan artefak museum. Ia adalah teknologi sosial yang memungkinkan masyarakat menyampaikan pesan dengan santun dan elegan.
Budaya tidak bertahan karena disimpan, tetapi karena terus diucapkan dalam konteks baru.
Seperti pantun penutup acara malam itu:
Buah mangga dibelah-belah,
Campur dengan gula aren.
Jika Perwara turun ke sekolah,
Warisan pantun semakin keren. (**)









