Kenapa? Karena batas administratif antara Kota Batam dan Kabupaten Bintan itu nyata untuk birokrasi, tapi imaginer untuk wisatawan. Tour guide hanya menyebutnya sambil lalu: “kita menyeberang selat, ini sudah wilayah Bintan.” Penumpang lebih peduli durasi ferry, bukan peta geografi yang sejak SD sampai SMA disuguhkan dalam pelajaran geografi.
Dua pulau ini saling mengisi dengan jujur:
Batam bising, mall buka sampai malam, nightlife hidup, kuliner Melayu-Tionghoa-India campur aduk. Orang Bintan datang ke sini cari keramaian.
Sementara Bintan hening, resort menyatu dengan alam, laut biru dan hembusan angin laut yang nyaman. Orang Batam datang ke sini cari jeda.
Demikian pula, jika membawa wisawatan asing, misalnya wisman china daratan maunya lihat pantai dan tinggal di resort, cocoknya di Bintan. Sementara wisman Singapore maunya memanjakan diri dengan entertaint, kuliner dan spa.
Pariwisata bukan bekerja seperti politik. Politik kadang membesarkan yang kecil, mengecilkan yang besar, Pariwisata tidak.
Bagi pelaku pariwisata, yang dilihat bukan siapa pemerintah daerahnya tapi apakah pantainya bersih, apakah ferry tepat waktu, apakah homestay punya wifi.Karena laut, pantai, hutan bakau, terumbu karang, budaya Melayu, kuliner gonggong, itu kebutuhan bersama.
Tidak ada yang rugi kalau turis menginap semalam di Batam lalu dua malam di Bintan. Justru sama sma berbagi rezeki dan pendapatan, jika berbagi maka rezeki akan berlipat baik taksi, ferry, hotel, travel agent, pemandu, UMKM sera stakeholder pariwisata lainnya.









