OPINI : Tiada Batas Administrasi Batam Dan BIntan Bagi Dunia Pariwisata

Yang masih mengkotak-kotakkan Batam versus Bintan biasanya belum menyelam cukup dalam di perairan Kepri, belum duduk lama mendengar pantun di Pulau Penyengat, atau belum merasakan betapa nikmatnya kopi “hawaii” di Kijang Bintan, luti gendang asli anambas, kernas di natuna, serta gubal atau lendot di lingga.

Dengan potensi kedua pulau tersebut mewakili Kepri dan Indonesia ke depan membuat kerjasama yang pernah  ada. Kerja sama ini bukan ide baru. SIJORI Growth Triangle pertama kali diumumkan 1989 oleh Wakil Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong, dengan visi memindahkan industri padat karya ke Johor dan Batam. Kawasan itu memang mencakup Singapore, Johor (Malaysia), dan Riau Islands (Indonesia).

BACA JUGA:  OPINI: Status Tanah HGB Diatas Tanah HPL, Dilema Hak Konstitusional Warga Versus Kepentingan Investasi

Sekarang, wujudnya bergeser dari pabrik ke pariwisata dan ekonomi biru. Dan salah satu penghubung fisiknya sedang disiapkan: Jembatan Batam-Bintan. Survei tanah sudah rampung akhir 2024, dengan hasil perairan Tanjung Uban dan Batam dinyatakan layak dibangun jembatan. Rencananya dua bentang, Batam–Tanjung Sauh 2,2 km dan Tanjung Sauh–Bintan 5,3 km.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OPINI: Ketika Penguji UKW Mengangkangi KEJ yang Diajarkannya

Ada yang pesimis, wajar. Tapi dunia pariwisata dilatih untuk menjadi optimistis. Dulu orang juga tidak percaya Batam bisa punya bandara internasional, sekarang ada penerbangan langsung ke Korea dan China. Dulu Bintan hanya Lagoi, sekarang ada Nikoi, Trikors dan akan ada rencana bandara baru 2026.

Kita warga Kepri. Anak cucu kita tidak akan tanya, “dulu Batam atau Bintan yang lebih hebat?” Mereka akan tanya, “kenapa dulu tidak disambungkan lebih cepat?” Jika kelak kita belum bisa menikmati jembatan Batam Bintan, anak cucu dan generasi berikutnya yang akan menikmati dan berperan lebih baik dari kita.

BACA JUGA:  OPINI: Batam, Kota Penuh Penghargaan, Namun Kebutuhan Publik Masih Terpinggirkan

Bermimpi itu tidak keliru. Mimpi itu jadi visi, visi dijabarkan jadi misi, misi digerakkan stakeholders: pemerintah pusat, pemko batam, pemkab bintan, pemprov Kepri, BP Batam, Bintan Resorts, asosiasi travel, nelayan yang jadi pemandu wisata, sampai penjual otak-otak di pelabuhan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *