OPINI: PBB, Grup Keluarga Dunia yang Semua Orang Masih Anggota

Lukita Dinarsyah Tuwo

Masalahnya, PBB memiliki penyakit klasik keluarga besar: semua menginginkan kerukunan, tetapi masing-masing mempunyai definisi sendiri tentang siapa yang harus terlebih dahulu meminta maaf.

Negara besar merasa telah terlalu banyak membayar. Negara kecil merasa terlalu sedikit didengar. Negara berkembang mempertanyakan mengapa aturan dunia sering dibuat oleh mereka yang sudah lebih dahulu maju.

Sementara itu, lima anggota tetap Dewan Keamanan mempunyai hak veto—semacam hak istimewa anggota keluarga senior untuk menghentikan keputusan rapat hanya dengan berkata, “Saya tidak setuju.”

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Lebih Fleksibel dan Seru: Promo Menginap Khusus April dari HARRIS Barelang Batam

Tidak mengherankan jika orang bertanya: masih relevankah PBB?

Pertanyaan itu wajar. Resolusi dikeluarkan, tetapi perang tetap berlangsung. Rapat diselenggarakan, tetapi bantuan kemanusiaan tetap tertahan. Pernyataan bersama dibacakan dengan khidmat, lalu ditafsirkan secara berbeda bahkan sebelum mikrofon dimatikan.

Namun, menilai PBB hanya dari konflik yang gagal dihentikannya juga tidak sepenuhnya adil. Kita jarang membaca berita tentang perang yang tidak terjadi, wabah yang berhasil ditekan, pengungsi yang mendapat pertolongan, anak yang menerima makanan, atau negara kecil yang akhirnya memiliki tempat untuk berbicara. Keberhasilan semacam itu kurang menarik bagi media karena tidak disertai ledakan.

BACA JUGA:  PGN Genjot Kapasitas Operasi dan Jangkauan Gas Bumi di Triwulan III 2024

PBB bukan pemerintah dunia. Ia tidak memiliki polisi yang dapat langsung mengetuk pintu negara pelanggar. Kekuatan PBB berasal dari kemauan anggotanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *