Barangkali pembangunan memang bukan semata tentang membangun sesuatu yang baru. Ia juga kesediaan menjaga yang sudah ada.
Di Pendopo Bupati Nias, pembicaraan memasuki ruang yang lebih jauh. Peta jalan Pulau Nias dibentangkan. Konektivitas dibahas. Potensi ekonomi dihitung. Muncul gagasan agar jalan lintas Pulau Nias memperoleh prioritas dalam pembangunan nasional.
Namun sesungguhnya yang sedang diperjuangkan bukan hanya jalan. Yang sedang diperjuangkan adalah jarak. Jarak antara desa dan kota. Antara petani dan pasar. Antara anak-anak dengan sekolah. Antara harapan dan kesempatan.
Negara, pada akhirnya, selalu bekerja melalui cara-cara yang tampak biasa. Sebuah jembatan. Sebuah jalan. Sebuah drainase. Sesuatu yang sering kita lewati tanpa berpikir panjang. Padahal di sanalah keadilan sering menemukan bentuknya yang paling konkret.
Barangkali itulah pelajaran yang dibawa Dody Hanggodo dari dua puluh tahun lalu. Bahwa rekonstruksi tidak pernah benar-benar selesai. Sebab setiap generasi memiliki kerusakannya sendiri. Ada yang disebabkan gempa. Ada yang disebabkan banjir. Ada pula yang lahir dari kelambanan melihat persoalan.
Karena itu, seorang menteri yang kembali ke tempat yang pernah dikenalnya bukan sedang mengulang masa lalu. Ia sedang menguji apakah negara masih mampu mengingat.
Dan mungkin, pada akhirnya, keadilan memang selalu dimulai dari jalan. Bukan karena jalan adalah tujuan. Melainkan karena tanpa jalan, terlalu banyak orang tak pernah benar-benar sampai. (***)
