Kita sering menyebutnya infrastruktur. Kata yang terdengar teknokratis. Padahal, di balik setiap ruas jalan, ada kehidupan yang sedang menunggu untuk terus berjalan.
Dody Hanggodo tidak langsung berbicara tentang proyek. Ia memilih melihat. Mendengar. Berdiri di tanah yang longsor itu sendiri. Bersama Anggota Komisi V DPR RI Muhammad Lokot Nasution, Bupati Nias Yaatulo Gulo, Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu, Bupati Nias Utara Amizaro Waruwu, ia memeriksa kondisi lapangan sebelum keputusan diambil.
Mungkin memang begitulah semestinya sebuah kebijakan lahir. Sebab peta hanya mengenal garis. Tanah mengenal kenyataan.
Dari lapangan itulah muncul keputusan: kajian geoteknik, penguatan drainase, pengendalian aliran sungai, pembangunan tanggul, hingga rancangan konstruksi yang lebih sesuai dengan karakter alam Nias. Perbaikan jalan dipastikan masuk dalam program tahun berjalan. Sebuah kepastian yang, bagi masyarakat yang setiap hari melintasi ruas itu, jauh lebih berarti daripada sekadar angka dalam dokumen anggaran.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Gunungsitoli. Persoalannya berubah. Bukan longsor, melainkan genangan air.
Hal-hal kecil sering kali menyembunyikan persoalan besar. Selokan yang tersumbat, drainase yang tidak terawat, saluran yang kehilangan fungsinya. Kota-kota di Indonesia sering gagal bukan karena kekurangan proyek, melainkan karena lupa merawat apa yang telah dibangun.
