Dan baru-baru ini delapan orang doktor dari berbagai disiplin ilmu duduk melingkar dengan takzim, membedah helai demi helai kebaikan dalam buku “Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman” karya wartawan senior Kepri, Ridarman Bay.
Buku yang kami bedah adalah karya yang nyata, bukan buku ilusi yang ditulis oleh jembalang yang hanya pandai menebar janji palsu—menjanjikan menulis buku biografi saya, memungut biayanya empat tahun lalu, namun hingga detik ini buku itu hanya terkubur di angan-angan yang mati. Maka tanyalah pada hatimu yang paling dalam: Engkaukah sebenarnya jembalang yang kau ceritakan itu?
Cermin yang Retak dan Akhir dari Dongeng Dusta
Pada akhirnya, cara seseorang merangkai kata dan menebar fitnah sesungguhnya adalah cermin dari serapuh apa kedewasaan jiwanya. Jiwa yang matang dan merdeka tidak akan pernah menciptakan musuh khayalan, hanya demi terlihat sebagai pahlawan kesepian di dalam rumahnya sendiri yang mulai retak.
Kami di KJK akan terus melangkah ke depan, menatap matahari, mengibarkan panji profesionalisme dengan adab yang setinggi langit. Silakan terus merajut kata demi kata penuh kebencian itu hingga jemarimu lelah.
Sebab pada akhirnya, waktu adalah hakim yang paling adil. Sejarah hanya akan mencatat siapa yang abadi berkarya dengan fakta, dan siapa yang akan terkubur sepi bersama dongeng-dongeng dusta yang mereka ciptakan sendiri. (***)











