IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA – Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu duduk memeluk anaknya yang menutup telinga di tengah suara televisi dan percakapan keluarga. Bagi sebagian orang, momen itu mungkin terlihat biasa.
Namun bagi keluarga dengan anak autis, itu adalah potongan kecil dari perjalanan panjang penuh belajar, kesabaran, dan cinta tanpa syarat.
Bagi Dr. Ruwinah Abdul Karim, Direktur PT Penawar Special Learning sekaligus Ketua Indonesia Autism Summit 2026 (INAS26), autisme tidak pernah sekadar tentang diagnosis medis. Autisme, menurutnya, adalah tentang manusia. tentang keluarga, penerimaan, dan masa depan masyarakat yang lebih berempati.
Di Indonesia, kata “autisme” kini semakin sering terdengar. Kampanye, seminar, dan diskusi publik mulai bermunculan. Namun, meningkatnya kesadaran belum selalu diikuti pemahaman yang utuh.
Masih banyak anak autis yang diberi label “nakal”, “tidak sopan”, atau “hasil pola asuh yang salah”. Stigma ini tak hanya melukai anak, tetapi juga keluarga yang setiap hari berjuang memahami dunia anak mereka.
Padahal, autisme bukan kesalahan orang tua. Autisme adalah kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi, dan merespons lingkungan. Sebagian anak sensitif terhadap suara, cahaya, atau perubahan rutinitas. Sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk berbicara dan menyesuaikan diri.
“Mereka tidak kurang. Mereka berbeda,” menjadi pesan yang terus digaungkan.
