Penampilannya memancarkan wibawa seorang lelaki Melayu, sementara Wina tampil anggun dengan busana pengantin yang memperlihatkan keindahan tradisi dan kelembutan perempuan Melayu.
Ornamen pelaminan yang didominasi warna dan ragam hias khas Melayu semakin menyempurnakan suasana. Keduanya duduk bersanding, seolah waktu berputar kembali ke masa muda, ketika cinta pertama kali diikrarkan dan janji setia mulai ditautkan.
Tentu, ada perbedaan antara busana pengantin Melayu Kepulauan Riau yang mereka kenakan hari itu dengan pakaian adat Gorontalo yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pernikahan keduanya.
Namun, justru di situlah keindahannya. Cinta yang sama, tetapi dibalut dalam kekayaan budaya yang berbeda.
Suasana semakin meriah ketika pasangan pengantin dadakan itu diarak menuju pelaminan. Para wartawan peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III PJS yang ikut dalam rombongan tampak pangling. Sosok Ketua Umum yang biasanya tampil dalam suasana formal organisasi, kali ini terlihat begitu berbeda.
Senyum dan gelak tawa pun pecah di antara para wartawan peserta Rakernas yang bertindak sebagai tamu undangan pernikahan. Kamera ponsel berlomba-lomba mengabadikan momen langka tersebut.
“Selamat ya, Pak Ketum. Semoga bahagia dan langgeng hingga akhir hayat,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal PJS, Amril Agin, disambut senyum dan tawa tamu lainnya.
Ucapan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di tengah suasana adat yang kental, ada doa tulus yang terselip, semoga cinta yang telah mereka rawat selama ini senantiasa tumbuh, menguat, dan menua bersama.
Usai prosesi bersanding, Mahmud dan Wina melayani sesi foto bersama dengan para peserta Rakernas III PJS yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia.













