Di tingkat daerah, Kepulauan Riau memiliki sedikitnya enam titik labuh jangkar utama, termasuk Tanjung Berakit, yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Khusus untuk kawasan Tanjung Berakit, luas area yang telah ditetapkan mencapai lebih dari 269 juta meter persegi yang terbagi dalam beberapa zona. Mulai dari jasa labuh kapal internasional; pengisian bahan bakar (bunkering); logistik dan suplai kapal; perawatan kapal (ship maintenance) hingga pusat logistik terapung.
Bahkan, pengembangan fasilitas seperti floating storage unit (FSU) atau gudang terapung telah mulai dirancang untuk mendukung aktivitas kapal di kawasan tersebut.
Pemanfaatan potensi labuh jangkar ini diyakini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan PAD. Dengan meningkatnya jumlah kapal yang singgah dan berkembangnya layanan maritim, sumber-sumber pendapatan baru akan terbuka bagi pemerintah daerah.
“Selain itu, efek berganda (multiplier effect) dari investasi ini juga akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Mulai dari terbukanya lapangan kerja di sektor pelabuhan, logistik, hingga peluang usaha bagi pelaku UMKM di wilayah pesisir,” jelasnya.
Pengembangan kawasan ini, tegasnya lagi. juga menjadi bagian dari strategi besar Kepri untuk memperkuat posisinya sebagai hub maritim internasional di kawasan barat Indonesia, terutama karena letaknya yang berdekatan dengan Selat Malaka dan Selat Singapura.










