Kisruh The Icon Central: Warga Tolak Homestay dan Keluhkan Mahalnya IPL

Nama Central Group sendiri bukan kali pertama menjadi sorotan publik. Pengembang ini sebelumnya juga dikaitkan dengan sejumlah keluhan warga di proyek lain di Batam. Salah satunya adalah kasus yang sempat viral terkait dugaan kualitas bangunan di kawasan Central Hills, Batu Aji, yang memunculkan istilah “rumah gabus”.

Meski isu tersebut meredup, sebagian warga menilai kepercayaan terhadap komitmen mutu dan tata kelola kawasan oleh Central Group belum sepenuhnya pulih. Kini, persoalan serupa kembali mencuat di The Icon Central.

Ketua RW The Icon Central, Herry Sembiring, mengungkapkan bahwa besaran IPL yang dibebankan kepada warga berkisar antara Rp765.000 hingga lebih dari Rp1 juta per bulan untuk setiap unit rumah.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Transformasi Tata Kelola Perizinan di Batam Jadi Prioritas Amsakar dan Li Claudia

“Angka itu sangat memberatkan dan tidak sebanding dengan layanan yang diterima warga. Ini juga tidak sesuai dengan konsep hunian yang dijanjikan saat awal pemasaran,” ujarnya.

Selain persoalan IPL, rencana pembangunan homestay di dalam kawasan perumahan privat menjadi sumber kegelisahan baru. Iqbal, salah seorang warga, menilai perubahan fungsi tersebut berpotensi memicu berbagai dampak negatif.

“Dulu kawasan ini dipromosikan sebagai hunian privat dan eksklusif. Sekarang malah diarahkan menjadi area penginapan umum. Risiko kebisingan meningkat, privasi terganggu, dan potensi masalah keamanan juga lebih besar,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *