Mengapa Sektor Ekstraktif Penting?
Salah satu temuan CELIOS 2026 yang menurut saya sangat relevan adalah komposisi kekayaan kelompok superkaya tersebut.
CELIOS memperkirakan bahwa pada 2026 sekitar 57,8 persen kekayaan 50 orang terkaya berkaitan dengan sektor energi dan ekstraktif, meningkat dari kisaran sekitar 39–46 persen pada periode awal yang mereka kaji. Sektor yang disebut mencakup antara lain batu bara, sawit dan nikel.
Ini mempunyai implikasi ekonomi-politik yang penting.
Kekayaan yang lahir terutama dari inovasi teknologi berbeda karakter kelembagaannya dengan kekayaan yang sangat bergantung pada penguasaan sumber daya alam.
Bisnis sumber daya alam sering berhubungan erat dengan izin, konsesi, hak atas lahan, tata ruang, royalti, kebijakan ekspor, infrastruktur pemerintah serta keputusan regulator. Karena itu kualitas institusi negara sangat menentukan apakah rente sumber daya alam menjadi sumber kemakmuran masyarakat atau justru memperkuat konsentrasi kekayaan.
Indonesia tentu tidak harus meninggalkan sumber daya alamnya. Justru kekayaan alam harus menjadi modal transformasi.
Tetapi hilirisasi tidak boleh berhenti pada memindahkan titik rente dari tambang ke smelter.
Hilirisasi harus berkembang menjadi industrialisasi yang sesungguhnya: teknologi, engineering, manufaktur maju, riset, desain, pemasok domestik, tenaga kerja terampil dan perusahaan nasional yang mampu menghasilkan produk dengan kompleksitas semakin tinggi.
Dengan cara itulah kekayaan baru Indonesia semakin banyak tercipta melalui value creation, bukan terutama melalui rent extraction.











