IDNNEWS.CO.ID, BATAM – Di sudut sebuah kafe di kawasan Batam Center, suasana pagi terasa lebih hangat dari biasanya. Percakapan kecil Forum Jurnalis Pariwisata (FJP) Kepri menjadi hidup ketika Surya Wijaya, Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia (Aspabri) mengalihkan pandangannya ke arah jendela dan mulai berbicara pelan namun tegas.
“Saya melihat kita masih sangat minim dalam promosi,” katanya, memulai analisis yang mencerminkan kegelisahan banyak pelaku industri wisata Kepri pada Selasa (23/12/2025).
Bayangannya sederhana, Kepulauan Riau adalah beranda terdekat Indonesia dengan Malaysia dan Singapura, dua pasar dengan daya beli tinggi dan mobilitas wisatawan yang kuat. Namun, ironi pun muncul. Surya mengungkapkan, ramainya wisatawan Malaysia ke Kepri bukan hasil kerja besar promosi pemerintah atau destinasi terstruktur.
“Banyak wisatawan datang berkat promosi individual dari TikToker Malaysia, agen perjalanan, atau orang-orang yang memang ingin berbisnis di bidang itu,” ujar Surya. Dalam diam, pernyataan itu terasa seperti kritik halus bahwa mesin promosi Kepri nyaris tidak bergerak.
Kepri sebenarnya punya peluang besar. Salah satunya direct flight dari Korea Selatan—akses emas yang seharusnya menjadi katalis masuknya wisatawan asing. Namun data di lapangan menunjukkan anomali.
