“Lebih banyak orang Indonesia yang terbang ke Korea daripada orang Korea yang datang ke Batam atau Kepri,” lanjut Surya.
Dalam dunia pariwisata, ketimpangan ini bukan hanya persoalan angka, tetapi kegagalan memanfaatkan peluang ekonomi.
Kepri selama ini dikenal sebagai destinasi short escape, terutama bagi wisatawan Singapura dan Malaysia. Namun tanpa penetrasi promosi terukur ke pasar-pasar baru, pintu emas seperti rute internasional hanya menjadi ornamen tanpa nilai tambah.
Surya menegaskan bahwa promosi pariwisata harus berorientasi keluar negeri—seperti yang lazim dilakukan oleh banyak negara. “Termasuk di Batam, ramai sekali orang dari negara lain mempromosikan negara asalnya di sini,” ungkapnya.
Sementara itu, promosi Kepri justru cenderung berhenti di lingkup lokal: baliho, acara seremonial, atau kampanye digital yang tidak menyasar pasar asing secara agresif. Padahal, perputaran ekonomi pariwisata terbesar justru datang dari kantong-kantong wisatawan mancanegara.
Di penghujung diskusi, Surya menutup pandangannya dengan nada optimis. Ia percaya Kepri masih punya ruang besar untuk bangkit, apalagi setelah 2021 hingga kini industri pariwisata bergerak dalam fase pemulihan dan percepatan.
