Menurut Rudi, biaya yang terus bertambah membuat banyak pekerja harus mengurangi frekuensi pulang ke Batam untuk menghemat pengeluaran.
Keluhan juga datang dari kalangan mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar negeri namun masih berdomisili di Batam. Dewi Anggraini mengatakan fuel surcharge membuat biaya pendidikan tidak langsung ikut naik.
“Orang tua sudah bayar kuliah dan biaya hidup. Sekarang transportasi juga mahal. Kalau pulang terlalu sering, pengeluaran jadi membengkak,” katanya.
Sebagaimana diketahui, kenaikan biaya transportasi lintas negara tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berpotensi memicu efek domino terhadap ekonomi Batam secara keseluruhan. Banyak pekerja yang memperoleh penghasilan dari luar negeri namun membelanjakan uangnya di Batam.
Ketika biaya transport meningkat, daya beli masyarakat berpotensi menurun karena sebagian pendapatan dialihkan untuk menutup ongkos perjalanan. Dampaknya dapat dirasakan sektor UMKM, ritel, hingga jasa.
Pengeluaran tambahan yang sebelumnya tidak direncanakan membuat masyarakat harus menyesuaikan gaya hidup. Sebagian memilih mengurangi perjalanan, menekan konsumsi, hingga menunda kebutuhan sekunder.
Selain besaran biaya, warga juga menyoroti transparansi perhitungan fuel surcharge. Mereka berharap operator kapal memberikan informasi yang jelas dan konsisten mengenai alasan kenaikan serta mekanisme penyesuaian tarif.









