“Sebelumnya dari awal kami memang punya lima alat. Kemudian ada bantuan dari Bank Indonesia,” ujarnya.
Menurut Isnawati, bantuan tersebut memberikan dampak terhadap kapasitas produksi dan keberlangsungan usaha. Peralatan menjadi modal penting bagi pengrajin untuk terus memenuhi permintaan konsumen.
“Alhamdulillah, kalau untuk produksi sudah terbantu dengan adanya bantuan ini,” katanya.
Menariknya, pasar Rumah Tenun Lingga tidak hanya berasal dari dalam negeri.
Dalam beberapa tahun terakhir, produk songket yang dihasilkan para pengrajin mulai mendapat tempat di pasar Malaysia. Bahkan, permintaan dari negeri jiran tersebut disebut masih terus berjalan.
“Sudah banyak ke Malaysia. Kami banyak mendapat pesanan dari Malaysia,” ujar Isnawati.
Pesanan tersebut bahkan membuat para pengrajin harus bekerja untuk memenuhi produksi yang telah masuk. Untuk kebutuhan berikutnya, Rumah Tenun Lingga masih memiliki rencana produksi sekitar 20 lembar kain.
Kondisi itu menunjukkan bahwa kerajinan tenun dari daerah tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang mampu menembus pasar internasional.
Produk yang dikerjakan secara manual dengan waktu produksi yang tidak singkat justru menjadi nilai tambah tersendiri. Harga kain pun berada pada segmen premium, mulai Rp2,8 juta untuk produk tertentu hingga sekitar Rp5 juta.
Namun, di balik peluang pasar tersebut, Isnawati mengakui masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam meningkatkan minat generasi muda untuk terjun menjadi pengrajin.
“Yang bekerja itu belum ramai. Yang minat juga belum banyak,” ujarnya.










