Andi juga menilai kebijakan ini tidak sejalan dengan agenda nasional yang mendorong investasi dan hilirisasi.
“Bagaimana mau bicara hilirisasi kalau hulunya saja tidak jalan? Ini kontradiktif,” ujarnya.
Ia mengingatkan, Kepri memiliki keunggulan geografis yang strategis. Namun keunggulan itu menjadi tidak berarti jika biaya dasar produksi justru paling tinggi di Indonesia.
“Investor tidak melihat potensi saja. Mereka lihat biaya. Kalau paling mahal, mereka pindah. Sederhana,” katanya.
Menurut Andi, mempertahankan HPM tinggi dengan harapan meningkatkan pendapatan daerah adalah pendekatan yang keliru.
“PAD tidak lahir dari angka tinggi. PAD lahir dari aktivitas,” ujarnya.
Ketika produksi tidak berjalan, ekspor tertahan, dan usaha tidak berkembang, maka basis penerimaan daerah justru melemah.
“Kalau usahanya mati, pajak dari mana?” katanya.










