Kenaikan tersebut dinilai sangat berdampak pada sektor transportasi logistik, terutama armada yang menggunakan mesin standar emisi Euro 4. Kendaraan jenis ini bergantung pada bahan bakar berkualitas tinggi seperti Dexlite dan Pertamina Dex yang lebih murni dibandingkan biosolar.
“Dalam jangka pendek, sektor logistik pasti terdampak karena harus menaikkan biaya operasional. Pada akhirnya, harga barang juga akan ikut naik,” jelas Suyono.
Kondisi ini memicu efek berantai dalam rantai pasok nasional. Biaya distribusi yang meningkat membuat harga barang di tingkat produsen dan distributor ikut terdorong naik sebelum sampai ke konsumen.
Kenaikan biaya logistik kerap menjadi salah satu faktor pendorong inflasi. Ketika ongkos distribusi meningkat, pelaku usaha hampir tidak memiliki pilihan selain melakukan penyesuaian harga jual untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Suyono menilai situasi saat ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, terutama pada barang konsumsi yang bergantung pada distribusi jarak jauh, seperti produk makanan, bahan bangunan, hingga barang elektronik.
Menurutnya, jika tidak segera diantisipasi, dampak kombinasi gangguan bahan baku global dan kenaikan biaya energi dapat memperlambat pertumbuhan sektor industri serta menurunkan daya beli masyarakat.
Menghadapi situasi tersebut, Suyono menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor antara pelaku usaha dan pemerintah. Ia mendorong organisasi dunia usaha untuk segera duduk bersama membahas langkah mitigasi yang konkret.










