Langkah ini sekaligus menandai pergeseran kebijakan energi nasional, dari orientasi ekspor menuju pemenuhan kebutuhan domestik, khususnya untuk pembangkit listrik dan sektor industri strategis.
Dari sisi pelaksanaan proyek, Direktur PT Timas Suplindo, Hugo Tangara, menjelaskan pembangunan pipa WNTS–Pemping dilakukan dengan skema fast track guna mengejar kebutuhan energi yang terus meningkat.
Saat ini, progres proyek telah mencapai sekitar 27 persen. Pada bulan ini, Timas mulai mengerjakan proses trenching dari darat ke laut, sementara pekerjaan pipelaying dilakukan menggunakan kapal DP2 berbendera Indonesia, Timas T-1201.
“Tantangan terbesarnya adalah penyambungan pipa WNTS ke Pulau Pemping dengan metode hot tapping. Ini pekerjaan teknis yang membutuhkan presisi tinggi,” jelas Hugo.
Ia menegaskan aspek keselamatan kerja menjadi prioritas utama. Seluruh sistem akan melalui tahapan pengujian dan commissioning sesuai standar industri migas, demi memastikan operasional berjalan aman dan andal.
Sementara itu, Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero), Rizal Calvary Marimbo, menilai proyek ini memiliki makna strategis jauh melampaui pembangunan fisik.
“Kebutuhan gas untuk pembangkit listrik di Batam terus meningkat seiring pertumbuhan industri. Pipa WNTS–Pemping akan menjadi jalur utama gas Natuna untuk kebutuhan domestik,” ujarnya.
Ia menambahkan, proyek ini sejalan dengan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), yang menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama. PLN menargetkan pembangunan berjalan aman dengan komitmen zero accident hingga proyek rampung.
