IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di atas level 5 persen pada kuartal II 2026. Meski konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah mulai mengalami normalisasi setelah momentum Ramadan dan Idulfitri, investasi tampil sebagai motor utama yang menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan kajian Treasury Economist Bank Danamon, ekonomi Indonesia tumbuh 5,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II 2026. Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi Bank Danamon sebesar 5,2 persen maupun konsensus pasar yang berada di kisaran 5,1 persen.
Meski demikian, angka tersebut sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,6 persen.
Bank Danamon menilai perlambatan tersebut dipengaruhi oleh normalisasi konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah setelah sebelumnya terdorong oleh tingginya aktivitas ekonomi selama Ramadan dan Lebaran.
Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi tercatat turun menjadi 2,67 poin persentase (ppt) dari 2,95 ppt pada kuartal sebelumnya.
Sementara itu, kontribusi konsumsi pemerintah juga menurun menjadi 1,07 ppt, dibandingkan 1,26 ppt pada kuartal I 2026. Penurunan tersebut terjadi setelah berakhirnya lonjakan belanja pemerintah yang didorong pencairan gaji, tunjangan hari raya (THR), serta berbagai program prioritas nasional pada awal tahun.
Di tengah normalisasi konsumsi, investasi justru menunjukkan kinerja yang semakin kuat. Kontribusi investasi meningkat menjadi 2,06 ppt dari sebelumnya 1,79 ppt, menjadikannya salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal II.
Peningkatan investasi didorong oleh belanja pemerintah untuk pembangunan infrastruktur dan program strategis nasional, serta investasi swasta di berbagai sektor seperti manufaktur, hilirisasi industri, mesin dan peralatan, infrastruktur digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga pembangunan pusat data (data center).










