Dampak Konflik Iran Mulai Terasa, Industri Pariwisata Batam ‘Diminta’ Bersiap

Batam menargetkan kunjungan 1,7 juta wisatawan mancanegara, sementara Provinsi Kepulauan Riau mendapat target sekitar 2,7 juta kunjungan wisman sepanjang 2026.

Menurut Surya, kondisi ekonomi global saat ini berpotensi menjadi tantangan terhadap target tersebut.

“Semua harapan itu kemungkinan baru bisa kita rasakan setelah Ramadan berakhir. Industri pariwisata, pelaku usaha, dan pemerintah daerah sudah menyiapkan banyak program untuk menarik wisatawan datang. Namun dinamika global tetap harus menjadi perhatian,” katanya.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen

Salah satu indikasi dampak global yang mulai terasa adalah kenaikan biaya layanan transportasi laut, khususnya untuk rute Batam–Singapura.

Operator kapal ferry tujuan Singapura mengumumkan penambahan biaya pelayanan kapal yang mulai berlaku pada 12 Maret 2026. Penumpang akan dikenakan tambahan biaya sebesar 6,5 dolar Singapura untuk keberangkatan dari Singapura dan sekitar Rp65.000 untuk keberangkatan dari Batam.

Kenaikan biaya tersebut diduga berkaitan dengan meningkatnya harga minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan geopolitik.

“Ini baru langkah awal. Kita masih harus menunggu apakah operator ferry tujuan Malaysia juga akan mengambil langkah yang sama,” kata Surya.

BACA JUGA:  Polres Anambas: Ada 47 Kasus Kejahatan Konvensional dan 3 Kasus Menonjol di 2024

Melihat berbagai dinamika tersebut, Surya menekankan pentingnya menjaga ekosistem pariwisata agar tetap stabil dan kompetitif.

Ia menjelaskan bahwa ekosistem pariwisata terdiri dari berbagai komponen yang saling terhubung, mulai dari atraksi wisata, akomodasi, transportasi, layanan pendukung, hingga peran masyarakat lokal.

“Ekosistem pariwisata adalah integrasi dari berbagai komponen yang saling berinteraksi—atraksi, hotel, transportasi, layanan, hingga masyarakat. Semua harus berjalan bersama agar tercipta pengalaman wisata yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujarnya.

Namun ia menilai saat ini ada indikasi bahwa beberapa mata rantai dalam ekosistem tersebut mulai terganggu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *