IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan pentingnya pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 untuk memotret perubahan struktur ekonomi Indonesia yang berlangsung signifikan dalam satu dekade terakhir.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, mengatakan perubahan terjadi hampir di seluruh aktivitas ekonomi, mulai dari cara memproduksi barang, pemasaran, distribusi, hingga metode transaksi masyarakat.
“Kenapa harus disensus? Kalau kita kembali ke tahun 2016, pasti kegiatan ekonomi itu sudah sangat berubah. Cara orang memproduksi barang sudah berubah, cara orang memasarkan dan mendistribusikan barang juga sudah berubah,” kata Edy dalam acara Kompas.comtalks di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2025) malam.
Menurut Edy, perubahan tersebut terlihat jelas dari pola rantai distribusi barang. Jika sebelumnya produk dari produsen umumnya melewati pedagang besar kemudian diteruskan kepada pedagang kecil sebelum sampai ke konsumen, kini pola tersebut semakin berubah.
Produsen dapat menjangkau konsumen secara langsung, salah satunya melalui perkembangan teknologi dan platform digital.
Cara Transaksi Masyarakat Ikut Berubah
Perubahan struktur ekonomi juga tercermin dari cara masyarakat melakukan transaksi.
Edy mengatakan masyarakat kini semakin jarang membawa uang tunai dalam jumlah banyak ketika beraktivitas. Sebaliknya, telepon seluler semakin sering digunakan untuk melakukan pembayaran.
Perubahan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kondisi perekonomian Indonesia tidak lagi sama dengan satu dekade sebelumnya.
“Kenapa mesti dipotret? Agar kita semua, bukan cuma pemerintah sebetulnya, tapi para pelaku ekonomi juga mendapatkan gambaran secara utuh,” ujar Edy.
Menurut dia, data hasil sensus ekonomi diperlukan agar pemerintah maupun pelaku usaha memiliki gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi dan struktur ekonomi terkini.










