Sementara itu, belanja modal naik 7,48 persen menjadi Rp905,55 miliar. Tambahan anggaran tersebut akan difokuskan pada pembangunan sarana pendidikan, pengadaan bus sekolah, peningkatan fasilitas kesehatan, penanganan banjir, penerangan jalan umum, pengelolaan sampah, utilitas perumahan hingga pembangunan marka jalan.
Sebaliknya, Belanja Tidak Terduga turun lebih dari 41 persen menjadi Rp11,33 miliar karena sebagian anggaran dialihkan untuk mendukung program prioritas yang dinilai lebih mendesak.
Perubahan signifikan juga terjadi pada sisi pembiayaan daerah. Penerimaan pembiayaan melonjak dari Rp115,5 miliar menjadi Rp272,48 miliar atau naik 135,91 persen.
Menurut Amsakar, peningkatan tersebut berasal dari pelampauan realisasi pendapatan, efisiensi belanja, Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), serta sisa Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Selain memaparkan struktur APBD, Amsakar juga menyampaikan proyeksi ekonomi Batam pada 2026 yang diperkirakan tumbuh di kisaran 6,4 hingga 7,4 persen, lebih tinggi dibanding target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4 persen.
Optimisme tersebut didukung oleh kuatnya arus investasi, pembangunan infrastruktur, pertumbuhan industri pengolahan, sektor konstruksi, perdagangan, hingga meningkatnya aktivitas pariwisata yang berdampak positif terhadap sektor perhotelan, restoran, dan transportasi.
