DBS Proyeksikan Rupiah Rp17.600-Rp18.000 per Dolar AS hingga Akhir 2026

IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA — DBS Bank memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.600 hingga Rp18.000 per dolar AS pada 2026. Proyeksi tersebut sejalan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,3%.

Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid, terutama ditopang konsumsi dan investasi.

DBS memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 5,3% pada 2026, sementara inflasi diproyeksikan berada di kisaran 3,3%.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Dukung Perhelatan Budaya Pacu Jalur, Telkomsel Perkuat Infrastruktur Jaringan dan Layanan

“Arus masuk investasi juga berpotensi mendukung stabilitas rupiah sehingga nilai tukar diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.600-Rp18.000 per dolar AS pada 2026,” ujar Radhika Rao dalam acara bertajuk The Indonesia Equation: Risks, Returns and the Road to 2027, Kamis (10/9/2026).

Proyeksi tersebut disampaikan di tengah pergerakan rupiah yang masih berfluktuasi sepanjang tahun ini. Pada Jumat (11/9/2026), rupiah ditutup melemah 0,36% ke level Rp17.611 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat menembus level Rp18.100 pada Juni 2026.

BI Diperkirakan Tak Kembali Naikkan Suku Bunga

Dari sisi kebijakan moneter, DBS memperkirakan Bank Indonesia (BI) tidak perlu kembali menaikkan suku bunga pada tahun ini.

BACA JUGA:  OJK Perketat Pengawasan Pindar Usai Proses Hukum KoinP2P

BI sebelumnya telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin pada Mei-Juni 2026 hingga mencapai level 5,75%.

“BI telah melakukan aksi preemptive dengan menaikkan suku bunga. Tinggal melihat ke depan kondisi global seperti apa,” ujar Radhika.

Menurutnya, kondisi global tetap menjadi salah satu faktor utama yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi arus modal, nilai tukar rupiah, serta kondisi pendanaan Indonesia menuju 2027.

Setidaknya terdapat tiga sentimen global utama yang menjadi perhatian pasar. Pertama, pergerakan harga minyak yang dipengaruhi perkembangan geopolitik, terutama perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *