DBS Proyeksikan Rupiah Rp17.600-Rp18.000 per Dolar AS hingga Akhir 2026

Kedua, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury yield serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Ketiga, pergerakan imbal hasil obligasi Jepang.

Radhika mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi global dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar negara berkembang karena investor berpotensi mencari tingkat imbal hasil yang lebih menarik.

Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi biaya pendanaan dan arus modal ke negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Bupati Bone Sambut Investasi Jepang untuk Budidaya Perikanan dan Pelestarian Mangrove

Peluang Investasi Manufaktur Kendaraan Listrik

Di tengah berbagai tantangan global, DBS melihat peluang investasi Indonesia tetap terbuka, terutama seiring perubahan rantai pasok global.

Tren China+1 dan Taiwan+1 dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pusat manufaktur kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) sekaligus tujuan investasi utama di Asia Tenggara.

Agenda hilirisasi juga dinilai dapat meningkatkan nilai tambah industri nasional. Kebijakan tersebut sekaligus membuka peluang investasi pada sektor energi, infrastruktur, dan manufaktur strategis.

Dengan kombinasi sumber daya, pasar yang berkembang, serta dukungan kebijakan, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam ekosistem teknologi, elektronik, semikonduktor, dan kendaraan listrik di kawasan Asia.

BACA JUGA:  CATAT INI! 17 hingga 23 Januari, Hujan Diprediksi Bakal Basahi Wilayah Indonesia

Prospek tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat arus investasi dinilai masih berpotensi menopang stabilitas rupiah sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju 2027.

SUMBER: BISNIS INDONESIA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *