Menelusuri Sejarah Masjid Jami’ Sultan Lingga, Warisan Kesultanan Melayu di Pulau Lingga

IDNNEWS.CO.ID, Lingga – Di tengah lanskap tenang Pulau Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, berdiri sebuah bangunan sederhana yang menyimpan jejak panjang sejarah peradaban Melayu. Masjid Jami’ Sultan Lingga bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga saksi bisu perjalanan Kesultanan Lingga yang pernah berjaya di kawasan ini.

Masjid ini memiliki akar sejarah sejak masa pemerintahan Sultan Mahmud Riayat Syah, ketika pusat Kesultanan dipindahkan dari Hulu Riau ke Pulau Lingga pada 24 Juli 1787. Perpindahan tersebut menjadikan Lingga sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat aktivitas keagamaan.

Seiring waktu, bangunan awal masjid yang sebagian besar terbuat dari kayu mengalami kerusakan. Pada masa selanjutnya, Sultan Abdurrahman Muazzam Syah membangun kembali masjid di lokasi yang sama. Bangunan inilah yang kini dikenal sebagai Masjid Jami’ Sultan Lingga dan masih berdiri kokoh hingga hari ini di Kampung Masjid, berhadapan dengan Kampung Tembaga.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Tim Task Force Pemko Batam Kembali Tertibkan Reklame TAk Berizin

Meski telah mengalami pembaruan, sejumlah elemen asli dari masa lalu tetap terjaga. Di dalam masjid, terdapat mimbar berukir khas Melayu serta skrin (dinding pembatas) yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1200-an Hijriah atau sekitar 1798 Masehi. Detail ukiran tersebut mencerminkan tingginya nilai seni dan budaya Melayu pada masa itu.

Keunikan lain dari masjid ini terletak pada arsitekturnya yang tidak menggunakan tiang penopang di bagian tengah ruang utama. Desain ini bukan tanpa makna. Filosofinya menegaskan bahwa kekuatan masjid terletak pada kebersamaan jemaahnya, bukan pada struktur fisik semata.

Di bagian belakang masjid, terdapat kolam wudhu bersejarah yang masih digunakan hingga kini. Pada sekitar tahun 1930-an, seorang tokoh bernama Orang Kaya Gelam Haji Samad membangun kolah atau tempat pembilas kaki setelah berwudhu. Fasilitas ini dibuat untuk menjaga kebersihan jemaah sebelum memasuki ruang utama, mengingat jarak antara kolam wudhu dan masjid cukup jauh.

BACA JUGA:  Warga Rempang-Galang Antusias Ikuti Pesta Rakyat 'Kemerdekaan' bersama PT Makmur Elok Graha

Tak hanya sebagai tempat ibadah, kawasan masjid juga menjadi lokasi penting dalam sejarah Kesultanan Lingga. Di bagian belakang mimbar terdapat kompleks pemakaman para pembesar istana dan keluarga kerajaan. Di antaranya adalah makam Sultan Mahmud Riayat Syah yang dikenal dengan gelar Marhum Masjid, beserta zuriatnya.

Di lokasi yang sama, dimakamkan pula Encik Maryam, permaisuri Sultan Mahmud sekaligus ibunda dari Sultan Abdurrahman. Keberadaan makam ini menambah nilai historis dan spiritual kawasan masjid, menjadikannya sebagai tempat refleksi sekaligus penghormatan terhadap para tokoh penting masa lalu.

Hingga kini, Masjid Jami’ Sultan Lingga tetap menjadi simbol warisan budaya dan religi masyarakat Melayu di Kepulauan Riau. Kesederhanaannya justru menyimpan kekayaan sejarah yang mendalam, menjadikannya destinasi penting bagi wisata religi maupun kajian sejarah di Indonesia. (Iman Suryanto)

BACA JUGA:  Telkomsel dan Kedutaan Besar Inggris Jakarta Akselerasikan Pengembangan Talenta Digital Indonesia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *