OPINI : Anak-Anak Muda Statistik

Oleh : Ilham Mendrofa

Pagi ini, saya sudah hampir keluar dari restoran hotel ketika sekali lagi menoleh ke belakang. Memperhatikan anak-anak muda itu masih duduk berkelompok. Sebagian tertawa kecil, sebagian menunduk memeriksa ponsel, sebagian lain merapikan rompi yang di dadanya tertulis satu kata: STATISTIK.

Entah mengapa, kata itu pagi itu terasa lebih bermakna daripada biasanya. Mungkin karena saya membayangkan, dari tangan-tangan muda itu negara sedang menyusun cermin besar untuk melihat wajahnya sendiri. Bukan wajah hasil polesan dalam keterangan pers pemerintah, tetapi wajah yang sesungguhnya: wajah para pedagang gorengan di pinggir jalan, pemilik bengkel kecil, tukang cukur, penjahit rumahan, pengusaha warung makan, fotografer pernikahan, penjual pulsa, pengelola laundry, pembuat konten, desainer lepas, hingga anak-anak muda yang hidup dari gim, video pendek, dan algoritma.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  BTN Kuasai 37 Persen Kuota Nasional KPR FLPP, Batam Jadi Kontributor Penting Penyaluran Rumah Bersubsidi

Indonesia yang real itu tidak berada kota-kota besar dan di gedung-gedung tinggi. Ia berada di balik etalase kecil, di meja kasir, di buku utang warung, di bunyi notifikasi QRIS, di paket yang dikirim, di omzet harian yang tidak selalu stabil, di tangan pekerja yang datang pagi dan pulang malam. Indonesia yang seperti itu kerap tidak masuk berita, tetapi justru setiap hari menyalakan ekonomi negara.

Beberapa menit sebelumnya, saya duduk tidak jauh dari mereka. Sarapan di restoran hotel dipenuhi mereka. Gelas teh, piring nasi, sendok dan piring saling beradu pelan. Di antara suara sarapan yang biasa, rompi-ropi statistik itu membuat pagi saya berbeda dari biasanya. 

BACA JUGA:  Ini Dia Maskot Resmi Pilkada di Kepri Bernama Rami dan Kesi

Saya memandangi mereka lama-lama. Ada yang baru lulus sarjana. yang persis duduk berhadapan dengan saya, alumni Data Science Institut Teknologi Sumatera. Ada pula alumni Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Wajah mereka muda, tetapi saya menebak tugasnya tidak ringan. Lebih dari 1.400 anak muda itu dikontrak sekitar dua setengah bulan, dilatih beberapa hari, lalu dilepas ke desa-desa se-Lampung Tengah, ke RT-RT, ke pasar, ke gang, ke ruko, ke rumah-rumah usaha yang selama ini bergerak di bawah radar.

Mereka bekerja berkelompok, menginput data melalui aplikasi, mencatat kehadiran dengan fitur geo-tagging, menyimpan jawaban ke sistem digital, lalu membiarkan data itu bergerak ke ruang yang lebih luas: cloud, server, pusat pengolahan, dan kelak—mungkin—ke dalam model-model kecerdasan buatan yang akan membaca pola ekonomi bangsa ini.

BACA JUGA:  BTN Batam Genjot Penyaluran KPR FLPP, Fokus Penuhi Kebutuhan Hunian ASN dan Pekerja Swasta

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *