UWTO hingga Ex-Officio Disorot, KALAM: Masa Depan Investasi Batam Dipertanyakan

IDNNEWS.CO.ID, BATAM – Sebuah gagasan yang lahir dari suasana hangat buka puasa bersama di D’Patros Harbour Bay kini berkembang menjadi wacana serius penataan ulang arah pembangunan ekonomi Batam. Pertemuan yang digelar Sabtu (14/03/2026) itu mempertemukan para tokoh senior yang tergabung dalam Perkumpulan Kawan Lama (KALAM), memantik diskursus baru tentang masa depan kota industri tersebut.

Pertemuan di kawasan Harbour Bay ini bukan sekadar reuni tokoh lama. Ia berubah menjadi forum kegelisahan bersama atas arah kebijakan pembangunan Batam yang dinilai mulai menjauh dari mandat awal: menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

BACA JUGA:  Hyundai Luncurkan New CRETA Alpha, Perkuat Strategi Produksi Lokal di Segmen SUV Kompak

Sejumlah figur penting hadir dalam forum tersebut, termasuk Ismeth Abdullah, Soerya Respationo, dan tokoh pendidikan Sri Soedarsono. Mereka menyampaikan kegelisahan serupa: pembangunan Batam dinilai mulai kehilangan orientasi kesejahteraan.

Bacaan Lainnya

Ismeth Abdullah menyoroti langsung keluhan masyarakat terkait beban ganda atas tanah—antara UWTO dan PBB—yang dianggap mencerminkan persoalan mendasar dalam tata kelola ekonomi kawasan.

Menurutnya, persoalan UWTO bukan sekadar administratif, melainkan menyangkut rasa keadilan dan kepastian ekonomi warga. Beban biaya lahan yang tinggi berpotensi menekan daya beli, investasi lokal, hingga daya saing kawasan.

BACA JUGA:  Peringati HLN ke-80, Amsakar Dukung Komitmen Nasional Mencapai Net Zero Emission 2060

Soerya Respationo menambahkan bahwa Batam membutuhkan forum resmi untuk mengevaluasi arah kebijakan pembangunan. Ia mendorong diskusi publik dan kajian strategis pasca-Idulfitri sebagai langkah awal perumusan ulang kebijakan ekonomi kawasan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *