30 Warga Rempang Ikuti Pelatihan Pemberdayaan, Kolaborasi Kementrans Dorong Ekonomi Lokal

IDNNews.co.id, Batam – Upaya meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat di kawasan Rempang Eco City terus diperkuat. Sebanyak 30 peserta dari masyarakat setempat mengikuti program pelatihan dan pemberdayaan yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) Yogyakarta melalui Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program strategis pemerintah dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia, khususnya di wilayah yang tengah berkembang seperti Rempang Eco City.

Pelatihan tidak hanya difokuskan pada peningkatan keterampilan, tetapi juga diarahkan untuk membuka peluang usaha serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat lokal.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Komitmen Membangun Harmonisasi, MEG dan Artha Graha Peduli Sembelih Hewan Qurban di Lima Lokasi

Acara tersebut turut dihadiri oleh Founder Batik Batam, Indra, Staf Khusus Kementerian Transmigrasi, Yudo, Lurah Sembulang, serta perwakilan dari PT Makmur Elok Graha (MEG), yakni Januar. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menunjukkan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mendukung keberhasilan program pemberdayaan.

Dalam pelaksanaannya, program ini mengedepankan pendekatan kolaboratif. MEG bersama Batik Batam berperan aktif sebagai mitra pendamping yang memberikan bimbingan langsung kepada peserta.

Pendampingan tersebut mencakup pengembangan keterampilan berbasis potensi lokal, termasuk pengenalan industri kreatif seperti batik, yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan di kawasan tersebut.

BACA JUGA:  Telkomsel Hyper AI Terapkan Teknologi Self-Adaptive Feedback Terbaru Bersama ZTE

Founder Batik Batam, Indra, menekankan pentingnya menggali potensi lokal sebagai kekuatan ekonomi baru. Menurutnya, pelatihan ini menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi juga pelaku utama yang mampu menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki.

Sementara itu, Staf Khusus Kementerian Transmigrasi, Yudo, menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memastikan pembangunan kawasan transmigrasi berjalan inklusif. Artinya, masyarakat lokal harus dilibatkan secara aktif dan mendapatkan manfaat nyata dari setiap proses pembangunan.

“Pemberdayaan masyarakat menjadi kunci agar pembangunan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh,” ujarnya.

BACA JUGA:  MEG Dorong Kolaborasi Lingkungan dan UMKM dalam Peringatan Hari Bumi 2026 di Rempang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *