“Keunggulan geografis saja tidak cukup. Kita harus memastikan pelabuhan dan infrastruktur pendukung terbangun maksimal sehingga aktivitas investasi dan industri dapat tumbuh dan memberikan manfaat kepada ekonomi daerah dan masyarakat,” ujar Amsakar, Rabu (30/9/2026).
Penguatan konektivitas juga terlihat dari peningkatan aktivitas layanan direct call internasional di Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar.
Pada Januari-Mei 2026, tercatat 106 kunjungan kapal melalui layanan direct call internasional. Jumlah tersebut meningkat 212 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 34 kunjungan kapal.
Peningkatan serupa terjadi pada volume peti kemas. Selama Januari-Mei 2026, volume peti kemas melalui layanan direct call mencapai 58.237 TEUs, naik 125 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebanyak 25.904 TEUs.
Amsakar mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan semakin luasnya akses Batam terhadap jalur perdagangan internasional.
“Ini menunjukkan bahwa konektivitas Batam terus berkembang. Akses yang semakin terbuka akan memberikan ruang yang lebih besar bagi dunia usaha dan industri untuk terhubung dengan pasar internasional,” katanya.
Selain konektivitas melalui jalur laut, Batam juga memperkuat infrastruktur digital. Salah satunya melalui pendaratan Nongsa-Changi Cable (NCC) di Batam pada 20 Juli 2026.











