Selain bersilaturahmi, KJK juga menyerahkan bantuan tali asih kepada Aji.
Bagi Ady, bantuan tersebut mungkin tidak seberapa dibandingkan perjuangan panjang yang telah dilalui Aji. Namun, kepedulian sekecil apa pun diharapkan menjadi pengingat bahwa seorang jurnalis tidak pernah benar-benar sendirian ketika menghadapi kesulitan.
“Pena kita mungkin berbeda, media tempat kita bernaung pun tidak sama. Namun, ketika ada satu jari kita yang terluka, seluruh tubuh ikut merasakan sakitnya,” ujar Ady.
Kalimat itu menjadi pesan utama dari kunjungan tersebut.
Menurut Ady, hubungan antarsesama jurnalis tidak semestinya berhenti ketika seseorang tidak lagi bekerja di media yang sama, berpindah organisasi, ataupun meninggalkan aktivitas jurnalistik.
Persaudaraan, kata dia, jauh lebih panjang daripada sekadar hubungan pekerjaan.
Ady yang pernah menjadi wartawan Harian Sijori Mandiri pada 2001 itu mengatakan, kunjungan kepada Aji merupakan upaya merajut kembali tali persaudaraan yang tidak seharusnya putus hanya karena waktu.
Ia mengajak insan pers di Kepulauan Riau untuk memperkuat solidaritas dan saling menopang, terutama ketika salah satu rekan sedang menghadapi musibah.
“Delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk bertahan dalam sunyi di atas tempat tidur. Mari kita lepaskan sejenak baju organisasi dan ego sektoral demi sebuah kemanusiaan,” kata Ady.
Suaranya terdengar berat saat menyampaikan pesan tersebut.
