Keberhasilan penerapan model tersebut di Batam mendorong Perempuan Tani HKTI untuk mengembangkan program serupa di daerah lain. Yogyakarta menjadi salah satu wilayah yang direncanakan sebagai lokasi replikasi berikutnya.
Model yang dikembangkan nantinya akan disesuaikan dengan potensi komoditas, karakteristik wilayah, serta kebutuhan perempuan tani di masing-masing daerah.
Pengembangan program tidak hanya ditujukan untuk memperluas pemanfaatan teknologi pertanian, tetapi juga membangun ekosistem agribisnis perempuan dari sisi produksi, pengelolaan usaha hingga peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian.
Ketua Umum Perempuan Tani HKTI berharap model pemberdayaan tersebut dapat dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia.
“Ketika perempuan tani berdaya, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh perempuan itu sendiri, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan pembangunan ekonomi daerah,” ujarnya.
Melalui program tersebut, Perempuan Tani HKTI mendorong transformasi sektor pertanian yang lebih inklusif, produktif dan berbasis teknologi, sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha tani dan peran perempuan dalam perekonomian daerah.(***)













