Gagasan itu lahir bukan dari ruang rapat berpendingin, melainkan dari malam panjang penuh semangat di rumah dinas Walikota Batam saat itu, almarhum Nyat Kadir.
Hadir pula budayawan Melayu Yusmar Yusuf, serta para tokoh KKBM seperti Musa Djantan. Mereka berbincang hingga hampir tengah malam, membentangkan konsep besar tentang bagaimana seni dan tradisi bisa menjadi pintu masuk kesejahteraan.
“Banyak pakai duit ni…” bisik sang Walikota kala itu dengan nada ragu.
Namun Osman dan kawan-kawan menegaskan: “Tidak perlu, Pak. Semua bisa kita lakukan secara mandiri. Pemerintah cukup mendukung, kami yang jalan.”
Percakapan itu pun berbalik arah. Sang Walikota akhirnya tersenyum dan berkata, “Mike pandai…”—sebuah pengakuan tulus akan semangat dan kecerdikan masyarakat hinterland.


Namun satu perdebatan penting muncul malam itu: nama lomba.
Dari “Dragon Boat” ke “Sea Eagle Boat Race”
Semula, lomba ini hendak diberi nama Dragon Boat Race seperti umumnya. Tapi Yusmar Yusuf menegur dengan lembut, “Kalau kita salah meletak nama sejak mula, akan salah selamanya.”
Nama haruslah mencerminkan identitas Melayu, bukan sekadar meniru budaya lain.
Muncul berbagai usulan: Lomba Pacu Elang Laut, Elang Laut Boat Race, hingga akhirnya disepakati nama “Sea Eagle Boat Race”—nama yang tetap berjiwa lokal namun bergema internasional.









