Sagu Jadi Mesin Ekonomi Baru, BUMDes Panggak Laut Mampu Produksi Ikuti Permintaan Pasar

IDNNEWS.CO.ID, LINGGA – di sebuah sudut Desa Panggak Laut, Kabupaten Lingga, denyut ekonomi rakyat berdenyut pelan namun pasti.

Dari hamparan sagu yang selama ini identik dengan pangan tradisional, kini lahir produk bernilai ekonomi yang menjangkau pasar lebih luas—hingga ke Batam dan Tanjungpinang.

Di balik geliat itu, berdiri sosok Mawardi, Direktur BUMDes Karya Mandiri, yang dengan sederhana menjelaskan bagaimana proses panjang mengubah sagu mentah menjadi produk siap jual.

Bacaan Lainnya

“Dari sagu kotor kita proses jadi sagu yang bersih, kemudian kita keringkan dengan cahaya matahari. Kalau panasnya bagus, satu hari sudah kering. Kalau tidak, bisa sampai dua hari,” ujar Mawardi saat ditemui KE Group pada Selasa (11/8/2026) siang.

Proses yang tampak sederhana ini sejatinya menyimpan tantangan besar. Ketergantungan pada cuaca membuat produksi tidak selalu stabil. Namun, semangat untuk terus memproduksi tak surut, terlebih permintaan pasar mulai terbentuk.

Produk tepung sagu yang dihasilkan saat ini dikemas dalam ukuran 1 kilogram dengan harga sekitar Rp5.000. Meski masih sederhana, fleksibilitas menjadi kunci. BUMDes siap menyesuaikan kemasan, mulai dari skala kecil hingga besar, sesuai kebutuhan pasar.

“Produksi kita tergantung permintaan. Kalau banyak yang minta, kita tingkatkan. Kalau belum, ya kita sesuaikan,” katanya.

Pasar utama saat ini masih didominasi wilayah perkotaan di Kepri. Distribusi ke Batam dan Tanjungpinang menjadi jalur utama, menandakan adanya konektivitas ekonomi desa-kota yang mulai terbentuk.

Namun, di balik semua itu, Mawardi tak menampik bahwa keterbatasan modal pernah menjadi penghambat utama.

Pos terkait