Sagu Jadi Andalan Ekonomi Desa Panggak Laut Lingga, Produksi Capai 18 Ton per Bulan

Menariknya, ketersediaan bahan baku sagu di Panggak Laut hingga kini masih relatif aman.

Agung menjelaskan, tanaman sagu memiliki kemampuan tumbuh kembali setelah dipanen. Karena itu, sebelum pohon sagu dipanen, biasanya sudah terdapat anakan yang dapat menjadi sumber tanaman berikutnya.

“Untuk bahan baku sejauh ini masih aman. Pohon sagu seperti pohon pisang. Ditebang satu, tumbuh lagi. Sebelum kita panen, anak yang sudah siap panen itu sudah ada,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Produk sagu dari Panggak Laut juga telah dipasarkan ke sejumlah daerah di luar Lingga. Pengiriman dilakukan ke Jambi, Batam hingga Pulau Jawa, dengan Jambi menjadi salah satu pasar terbesar.

Untuk pasar Jambi, produk yang dikirim umumnya berupa sagu bersih. Sementara tepung sagu juga dipasarkan ke Batam untuk kebutuhan pengolahan lebih lanjut.

“Yang biasa kami kirim ke Jambi itu sagu bersih. Kalau tepung sagu biasanya kami kirim ke Batam. Untuk olahan kue kering, masih di seputaran Lingga,” kata Agung.

Ia mengatakan, sagu memiliki peluang hilirisasi yang cukup besar karena tidak hanya dapat dipasarkan dalam bentuk bahan baku. Komoditas tersebut dapat diolah menjadi tepung sagu, mi sagu, hingga berbagai produk makanan kering.

Dari sisi harga, sagu yang dibeli dari petani berada di kisaran Rp2.400 hingga Rp.2.500 per kilogram. Sementara sagu yang telah melalui proses pembersihan dapat mencapai sekitar Rp3.500 per kilogram.

Pengembangan sektor sagu di desa Panggak Laut juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia Provinsi Kepri, Pemerintah Daerah dan sejumlah pihak.

Pembinaan pemerintah daerah antara lain menyasar kelompok UMKM yang bergerak di bidang pengolahan makanan berbahan dasar sagu.

Pos terkait