Kebijakan ini ditujukan agar pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap berada pada level dua digit atau di atas 10 persen. BI menegaskan bahwa instrumen repo akan menjadi salah satu instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas moneter ke depan.
Selain itu, intensitas operasi moneter juga akan ditingkatkan, baik di pasar rupiah maupun valuta asing. Lelang SRBI akan dilakukan dua kali dalam seminggu, sementara intervensi pasar valas diperkuat melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta Non Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.
Bank Indonesia menegaskan bahwa koordinasi dengan pemerintah terus diperkuat guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Sinergi fiskal dan moneter diarahkan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga likuiditas perbankan, serta meningkatkan daya tarik investasi.
Melalui koordinasi yang erat antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, pemerintah optimistis fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan global yang masih berlangsung.
Kebijakan terbaru ini sekaligus menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. (***)
