“Kami berkomitmen menghadirkan pengelolaan limbah medis yang tidak hanya memenuhi standar kesehatan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi lingkungan,” ujar Ariastuty.
Salah satu implementasi konkret dari inovasi ini adalah pemanfaatan material hasil sterilisasi sebagai bahan baku pembuatan paving block. Limbah plastik medis yang telah steril dicampur dengan material konstruksi seperti semen dan pasir, kemudian dicetak dan dikeringkan hingga menjadi produk yang kuat dan layak digunakan.
Produk paving block tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan area fasilitas seperti halaman rumah sakit, jalur pejalan kaki, hingga fasilitas umum lainnya. Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana sektor kesehatan dapat berkontribusi pada pembangunan infrastruktur ramah lingkungan.




Secara ekonomi, inovasi ini memiliki dampak signifikan. Pengelolaan limbah medis selama ini identik dengan biaya tinggi karena memerlukan proses pemusnahan khusus.
“Dengan teknologi Sterilwave, sebagian limbah kini dapat diolah menjadi produk konstruksi yang memiliki nilai guna dan potensi nilai ekonomi, sehingga berpotensi menekan biaya operasional sekaligus membuka peluang usaha baru di masa depan,” jelasnya.
Pihaknya juga menegaskan bahwa, saat ini pemanfaatan limbah medis menjadi paving block masih berada pada tahap uji coba (prototype). Dalam fase tersebut, kapasitas produksi mencapai sekitar 35–40 unit paving block per hari, bergantung pada proses produksi dan pengujian yang masih berlangsung.
“Meskipun belum dipasarkan secara komersial, hasil produksi direncanakan akan dimanfaatkan terlebih dahulu untuk kebutuhan internal RSBP Batam, seperti pembangunan dan penataan area fasilitas rumah sakit. Setelah seluruh aspek perizinan dan pengujian terpenuhi, peluang komersialisasi terbuka lebar,” tambahnya.










