Prabowo Bawa 3 Agenda Ekonomi di KTT BRICS: Energi, Mineral Kritis, Industrialisasi

IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mendorong negara-negara anggota BRICS memperkuat kerja sama konkret di sektor energi, mineral kritis, industrialisasi, serta rantai pasok global.

Dorongan tersebut disampaikan Prabowo dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu hingga Minggu (12–13/9/2026).

Melalui BRICS, Indonesia mendorong lahirnya kerja sama yang dapat memperkuat ketahanan pangan, energi, pendidikan, dan ekonomi. Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan ketahanan negara anggota, tetapi juga menciptakan kemandirian dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Prabowo Dorong Konektivitas Sistem Energi

Salah satu agenda yang disoroti Prabowo adalah penguatan ketahanan energi. Menurutnya, negara-negara BRICS perlu membangun konektivitas sistem energi untuk memperkuat keamanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

BACA JUGA:  29 Titik Banjir di Batam Ditangani, BP Batam Terus Benahi Drainase

“Energi adalah salah satu contoh yang jelas. Kita menghubungkan sistem energi kita dan memperkuat keamanan energi di seluruh wilayah kita untuk mendorong perekonomian kita dan membangun ketahanan yang berkelanjutan,” kata Prabowo saat menghadiri sesi terbatas bertema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism.

Prabowo menilai kebersamaan antarnegara BRICS dapat memperkuat posisi dan ketahanan masing-masing negara. Menurutnya, kekuatan sebuah negara berawal dari kemampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari pangan, energi, pendidikan hingga kesempatan meningkatkan kesejahteraan.

“Dengan bersatu, kita juga menjadi lebih kuat. Kekuatan selalu bermula dari dalam negeri bersama rakyat kita, lewat kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka, menjamin pasokan energi yang mereka perlukan, mendidik anak-anak kita, serta memberikan mereka kesempatan untuk hidup sejahtera. Begitulah cara kita membangun bangsa yang tangguh dan benar-benar mandiri,” tuturnya.

BACA JUGA:  Rayakan Imlek dengan Kuota Melimpah, Telkomsel Hadirkan Paket Eksklusif

Presiden menegaskan ketahanan nasional diperlukan agar setiap negara mampu menentukan arah kebijakannya secara mandiri. Indonesia, kata dia, tidak menginginkan ketergantungan maupun tekanan dari kekuatan tertentu.

Mineral Kritis Masuk Deklarasi New Delhi

Agenda berikutnya adalah penguatan kerja sama mineral kritis. Prabowo menyebut Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar, termasuk mineral kritis, logam tanah jarang, sumber daya terbarukan untuk teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta hutan.

Menurut Prabowo, berbagai potensi tersebut juga dimiliki negara-negara BRICS. Terlebih, enam negara anggota BRICS merupakan bagian dari 10 negara dengan populasi terbesar di dunia dan BRICS berkontribusi sekitar 40% terhadap perekonomian dunia.

BACA JUGA:  Jaga Ekosistem Rempang, PT MEG Bangun Budaya Peduli Lingkungan Bersama Masyarakat

“Kita memiliki segala hal yang menjadi fondasi bagi abad hijau. Oleh karena itu, saat bencana melanda, kita harus memandangnya lebih dari sekadar bencana semata. Kita perlu melihat adanya keterkaitan erat antara ketangguhan menghadapi perubahan iklim dan pembangunan nasional,” ujarnya.

Mineral kritis juga menjadi salah satu poin dalam Deklarasi New Delhi yang disepakati negara-negara anggota BRICS, termasuk Indonesia, pada hari pertama KTT, Sabtu (12/9/2026).

Dalam deklarasi tersebut, negara-negara anggota mengakui pentingnya rantai pasok mineral kritis yang mampu menjamin pembagian keuntungan, peningkatan nilai tambah, serta diversifikasi ekonomi bagi negara-negara yang kaya sumber daya alam.

Kerja sama tersebut tetap harus menghormati kedaulatan negara atas sumber daya mineral yang dimiliki, termasuk hak untuk menetapkan dan menerapkan kebijakan publik yang sah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *