Potensi Pertanian Tanjungpinang Digenjot, HKTI Fokus Produksi, Digitalisasi hingga Pasar

IDNNEWS.CO.ID, BATAM – Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPD HKTI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mendorong penguatan ekosistem pertanian dan pangan melalui integrasi rantai pasok mulai dari produksi petani hingga pemasaran kepada konsumen.

Langkah tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I DPD HKTI Kepri yang digelar di Hotel Aston Batam, Senin (31/8/2026).

Rakerda mengusung tema “Memperkuat Konsolidasi, Membangun Kolaborasi, Mewujudkan Ketahanan Pangan Kepri” dengan semangat “Bersatu, Bergerak, Berdampak”.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Aset Tanah dan Bangunan Terpidana Kasus Pajak Tony Budiman Disita Kejagung

Penguatan ekosistem pertanian dinilai penting karena persoalan yang dihadapi petani tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga keterbatasan lahan, akses informasi harga, distribusi hingga pemasaran hasil pertanian.

Ketua DPC HKTI Kota Tanjungpinang, Muhammad Sadmni Al Qayum dalam pemaparanya mengatakan keterbatasan lahan menjadi salah satu persoalan utama pertanian di Tanjungpinang. Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya menghentikan upaya pengembangan sektor pertanian lokal.

“Memang permasalahannya adalah di lahan. Tetapi, itu tidak menjadi penghalang bagi kami. Kami turun ke beberapa petani dan mengkaji permasalahan-permasalahan petani yang ada di Kota Tanjungpinang,” ujarnya dalam Rakerda.

Menurut dia, selain persoalan lahan, petani juga menghadapi tantangan dalam digitalisasi produk dan akses pasar.

BACA JUGA:  Geledah 2 Rumah dan kantor BP Batam, Polda Kepri Dalami Dugaan Korupsi Revitalisasi Pelabuhan

HKTI Tanjungpinang, kata dia, berupaya mengakomodasi persoalan tersebut dengan membangun ekosistem yang menghubungkan petani, pelaku usaha, konsumen, hingga kebutuhan pangan masyarakat.

Salah satu program unggulan yang disiapkan adalah Ruang Tani, sebuah wadah pemasaran yang dirancang untuk mempertemukan produk pertanian dengan konsumen secara lebih langsung.

“Petani ini ketika menjual produknya, dia tidak tahu berapa harganya. Bahkan di Tanjungpinang masih ada sistem barter. Ini yang ingin kami putus mata rantainya dengan membangun Ruang Tani,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *