“Jangan terlalu banyak mengeluh dan curhat. Cobalah introspeksi, baik secara perorangan maupun organisasi,” ujarnya.
Dalam bisnis pariwisata, kepercayaan adalah mata uang utama. Industri ini bertumpu pada reputasi, standar layanan, dan profesionalitas antarpelakunya. Ketika semua pihak menjalankan perannya, potensi pendapatan daerah dan pelaku usaha akan meningkat signifikan.
Buralimar menyebut bahwa regulasi memang menjadi fondasi, namun yang menentukan keberhasilan adalah aktor lapangan. Baik komunitas, pramuwisata, pelaku travel, dan penggerak destinasi.
“Pemerintah daerah itu hanya regulator. Eksekutornya kembali kepada personel dan organisasi pariwisata di lapangan,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan agar polemik ini menjadi momentum bagi Kepri untuk membenahi iklim pariwisata, bukan memperlebar jurang konflik. Industri pariwisata Kepri perlu bergerak menuju model yang sehat, beretika, berkelanjutan, dan mampu menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan bagi semua pihak. (Iman Suryanto)









