Pertamina Ungkap Tantangan Besar Sebelum E20 Diterapkan di Indonesia

Infrastruktur E20 Mulai Dipersiapkan

Selain pasokan, kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting dalam penerapan bioetanol.

Saat ini, fasilitas penerimaan dan blending untuk produk dengan skema E5 telah tersedia di Jakarta dan Surabaya.

Penyesuaian fasilitas di terminal bahan bakar minyak (TBBM) juga terus dilakukan PT Pertamina Patra Niaga sebagai bagian dari persiapan perluasan distribusi bioetanol ke wilayah yang lebih luas.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Dorong SDM Unggul, BP Batam Gandeng Swasta Bangun Boarding School Berstandar Internasional di Rempang

“Jadi fasilitasnya itu sudah siap. Tentu saja kalau misalnya ini mau digalakkan untuk seluruh wilayah Jawa dan Bali dan juga nanti ke depannya nasional, ini kita perlu melakukan penyesuaian di terminal-terminal. Yang mana itu memang sudah disiapkan oleh teman-teman di Pertamina Patra Niaga,” kata Ary.

Menurut dia, proses penyesuaian teknis pada terminal penyaluran membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua tahun.

Persiapan tersebut diperlukan agar fasilitas mampu menerima dan menangani produk dengan kandungan bioetanol yang lebih tinggi.

SPBU Jadi Tantangan Berikutnya

Tantangan implementasi E20 tidak hanya berada pada sisi pasokan dan terminal BBM. Pertamina juga harus memastikan kesiapan fasilitas penyimpanan serta penyaluran di tingkat SPBU.

BACA JUGA:  Ekonomi Biru Menguat, Pertamina Kembangkan Terumbu Karang di Perairan Pulau Pasumpahan

Karakteristik bioetanol yang lebih sensitif secara kimiawi membuat fasilitas penyimpanan dan penyaluran di SPBU perlu mendapatkan perhatian khusus sebelum penggunaan bahan bakar dengan campuran lebih tinggi diperluas.

“Jadi untuk terminal-terminalnya ini sudah disiapkan untuk nanti bisa menerima E20. Butuh waktu 1-2 tahun untuk proses penyiapannya. Yang jadi isu itu adalah di SPBU, ini yang perlu juga dukungan dari pemerintah dan juga nanti dari Hiswana Migas bagaimana kita menyiapkan SPBU untuk bisa menerima produk bioetanol,” pungkas Ary.

Dengan demikian, penerapan E20 di Indonesia tidak hanya bergantung pada kesiapan Pertamina dalam mencampurkan bioetanol dengan bensin. Ketersediaan bahan baku dan produksi bioetanol domestik, kesiapan terminal BBM serta penyesuaian fasilitas SPBU menjadi sejumlah faktor penting yang harus dipenuhi sebelum program dapat diterapkan secara lebih luas.

BACA JUGA:  OJK Siapkan 3 Agenda Besar 2026-2027: BMKS, Demutualisasi BEI, dan Pasar Karbon

Pertamina saat ini masih memperkuat seluruh ekosistem tersebut agar peningkatan kadar campuran bioetanol dapat berjalan secara bertahap dan berkelanjutan.

SUMBER: KONTAN

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *