Integrated Terminal Batam menerima berbagai produk energi strategis, di antaranya Pertalite, Pertamax 92, Pertamax Turbo 98, Biosolar, Dexlite, Pertamina Dex hingga Marine Gas Oil (MGO) untuk kebutuhan industri pelayaran.
Fongky mengatakan, setelah produk energi tiba di terminal, distribusi dilakukan melalui berbagai moda sesuai kebutuhan pelanggan.
Untuk penyaluran BBM ke masyarakat dan pelanggan, Pertamina menggunakan mobil tangki yang melayani SPBU, TNI/Polri, sektor industri hingga instansi pemerintah.
Sementara distribusi melalui jalur laut juga dilakukan dengan skema bunkering untuk memenuhi kebutuhan pelanggan industri dan sektor pelayaran.
Kapasitas kapal suplai pun disesuaikan dengan kebutuhan stok. Pengiriman rutin dari Tanjung Uban, misalnya, dapat menggunakan kapal dengan kapasitas sekitar 6.000 ton, sedangkan dalam kondisi tertentu dapat dilakukan deviasi menggunakan kapal berkapasitas hingga 17.000 ton.
“Besaran suplai menyesuaikan kebutuhan stok di terminal. Jadi tidak hanya mengandalkan satu sumber, tetapi kita memiliki beberapa alternatif yang bisa digunakan sesuai kondisi,” kata Fongky.
Selain BBM, Integrated Terminal Batam juga mendukung kebutuhan energi sektor penerbangan melalui penyaluran avtur untuk Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU).
Pasokan avtur berasal dari Kilang Dumai dan Balongan. Sistem tersebut menjadi bagian dari jaringan distribusi energi nasional untuk menjaga kelancaran operasional penerbangan.
Fongky menuturkan, kebutuhan avtur menjadi perhatian khusus ketika terjadi peningkatan aktivitas penerbangan, termasuk pada periode musim haji.











