“Dia sebagai media tanam, seperti sekam,” jelas Nela.
Di wilayah kepulauan, sabut kelapa sebelumnya hanya menjadi limbah yang kerap mengganggu lingkungan perairan. Kini, melalui proses pengolahan sederhana, limbah tersebut justru menjadi sumber pendapatan baru sekaligus solusi lingkungan.
Dalam satu kali produksi, jumlah sabut kelapa yang diolah sangat bergantung pada pasokannya. Meski tidak selalu ditimbang secara rinci, satu kendaraan roda tiga (Viar) yang membawa sabut kelapa diperkirakan menghasilkan sekitar 5 kilogram cocopeat setelah diproses.
Meski skala produksinya masih kecil, model usaha ini mencerminkan konsep ekonomi sirkular yang mulai tumbuh di tingkat komunitas: limbah diubah menjadi produk bernilai jual, dengan dampak ganda pada ekonomi rumah tangga dan lingkungan.
Untuk saat ini, pemasaran cocopeat masih dilakukan secara terbatas, terutama melalui bazar-bazar kecamatan, kegiatan MTQ, serta digunakan untuk kebutuhan kebun sendiri sebagai media tanam.
Namun, di balik skala kecil tersebut, terdapat potensi besar jika dikembangkan lebih luas. Permintaan cocopeat di pasar pertanian modern, hidroponik, hingga bahan baku hortikultura terus berkembang seiring meningkatnya tren pertanian berkelanjutan.
Inovasi seperti ini juga memiliki relevansi dengan isu ekonomi yang lebih luas. Penggunaan cocopeat sebagai alternatif media tanam yang lebih murah berpotensi membantu menekan biaya produksi pertanian skala kecil.
