Pengamat Rikson: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Jadi ‘Alarm’ Daya Saing Industri Batam

Akademisi sekaligus Direktur Eksekutif Batam Labor and Public Policy (BALAPI), Rikson Tampubolon
Akademisi sekaligus Direktur Eksekutif Batam Labor and Public Policy (BALAPI), Rikson Tampubolon

Tekanan biaya energi datang di saat yang dinilai kurang tepat. Industri global masih menghadapi gangguan rantai pasok dan fluktuasi permintaan, sementara sektor manufaktur Batam belum sepenuhnya pulih pascapandemi.

Dalam situasi tersebut, kenaikan biaya energi berisiko mempersempit ruang adaptasi dunia usaha. Efisiensi menjadi pilihan yang kerap berujung pada penyesuaian tenaga kerja.

“Risiko terburuknya adalah pengurangan tenaga kerja. Ketika margin tergerus dan permintaan belum stabil, perusahaan akan mencari cara bertahan, termasuk menekan biaya operasional,” katanya.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Penerbangan Haji 2025, Pertamina: Konsumsi Avtur Meningkat 49 Persen di Kepri

Rikson menegaskan pemerintah tidak boleh absen dalam situasi ini. Ia menilai diperlukan kebijakan penyeimbang agar Batam tidak kehilangan daya saing di tengah tekanan biaya energi.

Sejumlah langkah yang dinilai mendesak antara lain pemberian insentif fiskal sementara bagi industri, evaluasi distribusi energi untuk kebutuhan logistik, serta penguatan rantai pasok domestik guna mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah.

“Kebijakan harus hadir untuk memastikan tekanan tidak terus merambat hingga ke masyarakat luas,” tegasnya.

Selain pemerintah pusat, peran pemerintah daerah dinilai krusial. Pemerintah Kota Batam dan BP Batam didorong lebih proaktif memperjuangkan kepentingan daerah agar tidak sekadar menjadi pelaksana kebijakan pusat.

BACA JUGA:  Bertumbuh 102,6 Persen, Bank Indonesia Kepri: Nominal Transaksi QRIS Capai Rp524 Triliun

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *